Cerita humor lucu ini dimulai ketika hari pertama masuk setelah libur panjang.
Ketika pelajaran dimulai,terjadi dialog antar ibu guru dan muridnya
Guru: Anak anak,gimana perasaan kalian saat ini?
Murid:senang bu!
Guru: pertama2 ibu akan menanyakan kata2 bijak apa yg sering dikatakan bapamu?
Murid 1:Hidup ini harus kita "LANJUTKAN"!
Guru: oooh,bapak kamu pasti anggota partai demokrat ya?
Murid 1: betul bu
Guru: oh pantes,sekarang kamu!
Murid 2: kata bapak saya hidup ini harus kuat seperti "BANTENG"!
Guru: ohhh ,pasti bapak kamu anggota partai PDIP
Murid 2: betul bu.
Guru: pantes,sekarang lanjutkan lagi
Murid 3: kata bapa saya "Lebih Baik Memberi Daripada Diberi"
Guru:wow,itu baru betul,bapak kamu pasti ustat/pendeta atau semacamnya ya?
Murid 3: bukan bu
Guru: ooh,pasti bapak kamu seorang yg taat ibadahnya kan?
Murid 3: bukan bu
Guru : pasti bapak kamu org yg baik dan suka bersosialisasi ya?
Murid 3:bukan juga bu
Guru (kesal!) :terus apa dong!
Murid 3: petinju bu
prikitiw didin nuzuludin
Sabtu, 25 Juni 2011
drakula amatir salah gigit
Konon Ada sebuah kerajaan yang dinamakan kerajaan drakula, dan sudah pasti penduduknya drakula semua. Pada suatu hari ada seorang drakula belum pernah sama sekali menghisap darah manusia, dan dia dipanggil oleh sang raja drakula untuk menghadap.
Raja Drakula : “Hei..kau Belum pernah menghisap darah manusia dan sekarang kau harus belajar menghisap darah manusia.”
Si drakula Amatir bilang : “Baik Raja malam ini saya akan menghisap darah manusia”
Raja Drakula : “Baguss!!!! Cepat kamu laksanakan…”
Malampun tiba Si drakula amatir itu pergi mencari korbannya dan akhirnya dia berhasil menghisap darah manusia.
Setelah itu dia menghadap sang raja drakula..
Raja drakula : “Bagaimana??, kamu sudah berhasil menghisapnya?? dan bagaimana rasanya ?”
Drakula Amatir : “Saya sudah berhasil Raja!!! Tapi rasa darahnya Aseem…!!!”
Raja Drakula : “Masa Asem? Emang siapa orang yang kamu hisap???”
Drakula Amatir : “Orangnya Laki-laki,kulitnya Hitam,jelek lagi..!!”
Raja Drakula : “Setahu saya Darah manusia semua sama, mau laki-laki atau perempuan, Cakep atau jelek semua sama..”
Drakula Amatir : “Sumpah Raja!!! Rasa Darahnya Asem…”
Raja Drakula : “Ok Klo gitu saya kasih kesempatan lagi, kamu cari lagi tapi coba kamu cari Cewek yang cantik,putih bersih.”
Drakula Amatir : “Baik Raja Nanti Malam Saya mencari darah lagi”
Setelah malam tiba drakula Amatir berangkat dan berhasil menghisap darah cewek yang cantik. Dan setelah itu dia kembali menghadap raja..
Raja Drakula : “Bagaimana?? Sudah Dapat menghisap darah Cewek cantik?? bagaimana rasanya?”
Drakula Amatir : “Sudah Raja!!! Cewek Cantik, Tubuh Putih Bersih!!!tapi Rasanya masih Asem!!!!”
Raja Drakula : “Saya tidak percaya! Masa Masih Asem!!!!Pasti ada yang salah!!! Cewek yang kamu hisap mayatnya masih ada gak??”
Drakula Amatir : “Masih ada raja!!! Masih terkapar dijalan”
Raja Drakula : “Baik, saya mau lihat mayatnya.”
Akhirnya Raja Drakula dan Drakula Amatir Berangkat melihat Mayat si Cewek tadi. Dan setelah sampai Raja drakula langsung melihat. Dan Raja Drakula langsung memukul kepala si Drakula amatir. Plakkkk!!!!!
Raja Drakula : “Goblokkkk!!! Hisap darah manusia itu Di leher, Bukan Di ketek!!!!”
Drakula Remaja : “?????#####!!!!!”
Partners
http://www.blogcatalog.com/directory/humor/crude-humor/
Raja Drakula : “Hei..kau Belum pernah menghisap darah manusia dan sekarang kau harus belajar menghisap darah manusia.”
Si drakula Amatir bilang : “Baik Raja malam ini saya akan menghisap darah manusia”
Raja Drakula : “Baguss!!!! Cepat kamu laksanakan…”
Malampun tiba Si drakula amatir itu pergi mencari korbannya dan akhirnya dia berhasil menghisap darah manusia.
Setelah itu dia menghadap sang raja drakula..
Raja drakula : “Bagaimana??, kamu sudah berhasil menghisapnya?? dan bagaimana rasanya ?”
Drakula Amatir : “Saya sudah berhasil Raja!!! Tapi rasa darahnya Aseem…!!!”
Raja Drakula : “Masa Asem? Emang siapa orang yang kamu hisap???”
Drakula Amatir : “Orangnya Laki-laki,kulitnya Hitam,jelek lagi..!!”
Raja Drakula : “Setahu saya Darah manusia semua sama, mau laki-laki atau perempuan, Cakep atau jelek semua sama..”
Drakula Amatir : “Sumpah Raja!!! Rasa Darahnya Asem…”
Raja Drakula : “Ok Klo gitu saya kasih kesempatan lagi, kamu cari lagi tapi coba kamu cari Cewek yang cantik,putih bersih.”
Drakula Amatir : “Baik Raja Nanti Malam Saya mencari darah lagi”
Setelah malam tiba drakula Amatir berangkat dan berhasil menghisap darah cewek yang cantik. Dan setelah itu dia kembali menghadap raja..
Raja Drakula : “Bagaimana?? Sudah Dapat menghisap darah Cewek cantik?? bagaimana rasanya?”
Drakula Amatir : “Sudah Raja!!! Cewek Cantik, Tubuh Putih Bersih!!!tapi Rasanya masih Asem!!!!”
Raja Drakula : “Saya tidak percaya! Masa Masih Asem!!!!Pasti ada yang salah!!! Cewek yang kamu hisap mayatnya masih ada gak??”
Drakula Amatir : “Masih ada raja!!! Masih terkapar dijalan”
Raja Drakula : “Baik, saya mau lihat mayatnya.”
Akhirnya Raja Drakula dan Drakula Amatir Berangkat melihat Mayat si Cewek tadi. Dan setelah sampai Raja drakula langsung melihat. Dan Raja Drakula langsung memukul kepala si Drakula amatir. Plakkkk!!!!!
Raja Drakula : “Goblokkkk!!! Hisap darah manusia itu Di leher, Bukan Di ketek!!!!”
Drakula Remaja : “?????#####!!!!!”
| ||||||
| << Start < Prev 1 2 Next > End >> | ||||||
| Page 1 of 2 | ||||||
Jasa Pembuatan Website Murah
Hanya dengan Rp 50.000 anda sudah bisa memilki website pribadi ataupun untuk bisnis online
backlinkadsensemurah.blogspot.com
Jasa Pembuatan Google Adsense
Frustasi karena di tolak google adsense? kami bantu pembuatannya hanya dengan Rp 50.000 (dibayar setelah google adsense di setujui = no risk)
backlinkadsensemurah.blogspot.com
Jasa Backlink Murah
Submit website anda ke 100 social bookmarking dofollow hanya Rp 25.000 atau 250 natural link dari 50 blog hanya Rp 40.000 backlinkadsensemurah.blogspot.com
Ads by Backlinkadsensemurah
Hanya dengan Rp 50.000 anda sudah bisa memilki website pribadi ataupun untuk bisnis online
backlinkadsensemurah.blogspot.com
Jasa Pembuatan Google Adsense
Frustasi karena di tolak google adsense? kami bantu pembuatannya hanya dengan Rp 50.000 (dibayar setelah google adsense di setujui = no risk)
backlinkadsensemurah.blogspot.com
Jasa Backlink Murah
Submit website anda ke 100 social bookmarking dofollow hanya Rp 25.000 atau 250 natural link dari 50 blog hanya Rp 40.000 backlinkadsensemurah.blogspot.com
Ads by Backlinkadsensemurah
Partners
http://www.blogcatalog.com/directory/humor/crude-humor/
Paling Baru
- Mercedes-Benz Mobil Mewah Terbaik Indonesia - wakakak.net 10
- Mercedes-Benz Mobil Mewah Terbaik Indonesia - wakakak.net 9
- Mercedes-Benz Mobil Mewah Terbaik Indonesia - wakakak.net 8
- cerita lucu humor tingkatan alay
- Mercedes-Benz Mobil Mewah Terbaik Indonesia - wakakak.net 7
- Mercedes-Benz Mobil Mewah Terbaik Indonesia - wakakak.net 6
- Mercedes-Benz Mobil Mewah Terbaik Indonesia - wakakak.net 5
cerita lucu makhluk gaib Seksi : humor makhluk gaib
Salah satu warga Indonesia meninggal dan karena amal perbuatan kurang baik nya salam hidup ia dikirim menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ternyata neraka itu berbeda-beda bagi tiap negara asal.
Pertama ia ke neraka orang-orang Australia dan bertanya kpd orang-orang Australia di situ: "Kalian diapain di sini?"
Orang Australia menjawab: "Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari."
Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju keneraka lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS, neraka Jepang, neraka Rusia dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang lebih mirip dengan neraka orang Inggris.
Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia sendiri, dan melihat antrian sangat-sangat panjang yang terdiri dari orang berbagai-bagai negara (tidak cuma orang Indonesia saja) yang menunggu giliran untuk masuk neraka Indonesia .
Dengan tercengang ia bertanya kepada yang ngantri: "Apa yang akan dilakukan di sini?" Ia memperoleh jawaban: "Pertama-tama, kita didudukan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari."
"Tapi itu kan sama persis dengan neraka-neraka yang lain toh. Lalu kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk ke sini?"
"Di sini service-nya sangat-sangat buruk, kursi listriknya nggak nyala, karena listrik sering mati...kursi pakunya nggak ada, tinggal pakunya aja karena kursinya sering diperebutkan. ..bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi, malah di tahun 2010 katanya mau naik lagi dan setannya adalah mantan anggota DPR, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang."
didin nuzuludin
Pertama ia ke neraka orang-orang Australia dan bertanya kpd orang-orang Australia di situ: "Kalian diapain di sini?"
Orang Australia menjawab: "Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari."
Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju keneraka lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS, neraka Jepang, neraka Rusia dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang lebih mirip dengan neraka orang Inggris.
Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia sendiri, dan melihat antrian sangat-sangat panjang yang terdiri dari orang berbagai-bagai negara (tidak cuma orang Indonesia saja) yang menunggu giliran untuk masuk neraka Indonesia .
Dengan tercengang ia bertanya kepada yang ngantri: "Apa yang akan dilakukan di sini?" Ia memperoleh jawaban: "Pertama-tama, kita didudukan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari."
"Tapi itu kan sama persis dengan neraka-neraka yang lain toh. Lalu kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk ke sini?"
"Di sini service-nya sangat-sangat buruk, kursi listriknya nggak nyala, karena listrik sering mati...kursi pakunya nggak ada, tinggal pakunya aja karena kursinya sering diperebutkan. ..bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi, malah di tahun 2010 katanya mau naik lagi dan setannya adalah mantan anggota DPR, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang."
didin nuzuludin
Cerita humor Lucu si Poltak
Poltak yang sudah 10 tahun di Jakarta akan pulang kampung.
3 hari sebelum tanggal pulang Poltak nelepon ke adik2nya.
Poltak: "Ucok, mau abang bawain apa kalo ke abang ke Jkt?"
Ucok: "HP Black Berry aja, bang, bisa?"
Poltak: "Aaakkh..., gampang itu, nanti abang bawain...!"
Poltak: "Kau Brojong, mau apa dari abang?"
Borjong: "Yang bener, bang?"
Poltak: "Betul! Mau apa?"
Borjong: "Kamera dijital, ajalah bang, macem punya si Togar itu....!"
Poltak: "Mana Butet? Mau aku bawakan apa dia?"
Butet:"Tak usahlah bang."
Poltak: "Tak usah sungkan, kau bilang aja apa yang kau mau."
Butet: "Anu, bang. Aku mau dibawain BH ajalah..."
Poltak: "Aaakkhh.., pening lah aabang kau buat, Tet. Yang gampang2 ajalah
macam titipan Ucok sm Bronjong itu."
Butet: "Wah, banyak kali uang abang, ya?"
Poltak: "Bukan begitu, Tet. Kalo BH susah abang nyopetnya. Ga mungkin abang
rogoh2 tetek orang...!"
by: didin nuzuludin
3 hari sebelum tanggal pulang Poltak nelepon ke adik2nya.
Poltak: "Ucok, mau abang bawain apa kalo ke abang ke Jkt?"
Ucok: "HP Black Berry aja, bang, bisa?"
Poltak: "Aaakkh..., gampang itu, nanti abang bawain...!"
Poltak: "Kau Brojong, mau apa dari abang?"
Borjong: "Yang bener, bang?"
Poltak: "Betul! Mau apa?"
Borjong: "Kamera dijital, ajalah bang, macem punya si Togar itu....!"
Poltak: "Mana Butet? Mau aku bawakan apa dia?"
Butet:"Tak usahlah bang."
Poltak: "Tak usah sungkan, kau bilang aja apa yang kau mau."
Butet: "Anu, bang. Aku mau dibawain BH ajalah..."
Poltak: "Aaakkhh.., pening lah aabang kau buat, Tet. Yang gampang2 ajalah
macam titipan Ucok sm Bronjong itu."
Butet: "Wah, banyak kali uang abang, ya?"
Poltak: "Bukan begitu, Tet. Kalo BH susah abang nyopetnya. Ga mungkin abang
rogoh2 tetek orang...!"
by: didin nuzuludin
sms romantiz
Ada tiga hal yang kucintai di dunia ini.
matahari, bulan, dan kamu
bulan untuk malam. matahari untuk siang
dan kamu untuk selamanya.
didin nuzuludin
matahari, bulan, dan kamu
bulan untuk malam. matahari untuk siang
dan kamu untuk selamanya.
didin nuzuludin
Kamis, 23 Juni 2011
Puisi Rindu
Menapaki Kerinduan
Ketika sinar matahari redup
sesosok rindu tanpa sayap
terbang ke atas awan
gelap mata
gelap hati
membuat aku lupa dimana aku singgah
gelap gulita menghapuskan arah dan tujuan
sementara,
panas nya terik matahari menyengat tubuh ku
jiwa-jiwa kepanasan
terperosok ke suatu lubang yaang paling dalam hatimu
debur ombak pantai Selatan menghantam hatiku
Tapi tak mampu goyahkan sepi
sapaan angin mengajak terik matahari
menyusupi pori-pori,
merontokan tulang...,,
disitu aku terdampar
sendiri
menapaki kerinduan
Pelabuhan Ratu,didin.nuzuludin
Ketika sinar matahari redup
sesosok rindu tanpa sayap
terbang ke atas awan
gelap mata
gelap hati
membuat aku lupa dimana aku singgah
gelap gulita menghapuskan arah dan tujuan
sementara,
panas nya terik matahari menyengat tubuh ku
jiwa-jiwa kepanasan
terperosok ke suatu lubang yaang paling dalam hatimu
debur ombak pantai Selatan menghantam hatiku
Tapi tak mampu goyahkan sepi
sapaan angin mengajak terik matahari
menyusupi pori-pori,
merontokan tulang...,,
disitu aku terdampar
sendiri
menapaki kerinduan
Pelabuhan Ratu,didin.nuzuludin
Tokoh-Tokoh
Sejarah Imam 4 Madzab :
1. Imam Syafi’i (madzah Syafi’i)
2. Imam Malik bin Anas (madzab Maliki)
3. Imam Ahmad Bin Hanbal (Madzab Hambali)
4. Imam Abu Hanifah (madzah hanafi)
25 Nabi yang wajib diketahui :
1. Nabi Adam
2. Nabi Idris
3. Nabi Nuh
4. Nabi Hud
5. Nabi Shalih
6. Nabi Ibrahim
7. Nabi Luth
8. Nabi Ismail
9. Nabi Ishaq
10. Nabi Ya’qub
11. Nabi Yusuf
12. Nabi Ayyub
13. Nabi Syu’aib
14. Nabi Musa
15. Nabi Harun
16. Nabi Dzulkifli
17. Nabi Dawud
18. Nabi Sulaiman
19. Nabi Ilyas
20. Nabi Ilyasa
21. Nabi Yunus
22. Nabi Zakaria
23. Nabi Yahya
24. Nabi Isa
25. Nabi Muhammad
Nabi yang mendapat julukan Ulul Azmi atau nabi/rasul yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menjalankan kenabiannya :
1. Nuh AS.
2. Ibrahim AS.
3. Musa AS.
4. Isa AS.
5. Muhammad SAW.
nama-nama Walisongo :
1. Sunan Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Kali Jaga
6. Sunan Gunung Jati
7. Sunan Drajat
8. Sunan Kudus
9. Sunan Muria
didin.n dan berbagai sumber
1. Imam Syafi’i (madzah Syafi’i)
2. Imam Malik bin Anas (madzab Maliki)
3. Imam Ahmad Bin Hanbal (Madzab Hambali)
4. Imam Abu Hanifah (madzah hanafi)
25 Nabi yang wajib diketahui :
1. Nabi Adam
2. Nabi Idris
3. Nabi Nuh
4. Nabi Hud
5. Nabi Shalih
6. Nabi Ibrahim
7. Nabi Luth
8. Nabi Ismail
9. Nabi Ishaq
10. Nabi Ya’qub
11. Nabi Yusuf
12. Nabi Ayyub
13. Nabi Syu’aib
14. Nabi Musa
15. Nabi Harun
16. Nabi Dzulkifli
17. Nabi Dawud
18. Nabi Sulaiman
19. Nabi Ilyas
20. Nabi Ilyasa
21. Nabi Yunus
22. Nabi Zakaria
23. Nabi Yahya
24. Nabi Isa
25. Nabi Muhammad
Nabi yang mendapat julukan Ulul Azmi atau nabi/rasul yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menjalankan kenabiannya :
1. Nuh AS.
2. Ibrahim AS.
3. Musa AS.
4. Isa AS.
5. Muhammad SAW.
nama-nama Walisongo :
1. Sunan Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Kali Jaga
6. Sunan Gunung Jati
7. Sunan Drajat
8. Sunan Kudus
9. Sunan Muria
didin.n dan berbagai sumber
Silsilah Sunan Gunung Jati
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
Selasa, 21 Juni 2011
tugas Knowledge Manajemen Sains
Sejarah Rumah Sakit Cibabat
Pada tahun 1943 pada masa pendudukan tentara Jepang di Indonesia atas instruksi komandan tentara Jepang di Cimahi, rumah kediaman Mr. Rydee dialihfungsikan menjadi klinik kesehatan bagi masyarakat dan tentara tahanan perang Belanda, di mana pengelolaan klinik tersebut diserahkan kepada Profesor R.H. Moechamadsyah Sastrawinangoen, DSOG, yang sebelumnya membuka klinik di Jl. Kaum Kaler No. 651 Cimahi dari tahun 1940. Pada tahun 1945, bersamaan dengan masa revolusi, klinik kesehatan yang dikelola oleh Prof.R.H. Moechamadsyah Sastrawinangoen, DSOG, berfungsi pula sebagai Markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Balai Pengobatan bagi tahanan perang Belanda dan masyarakat sekitarnya.
Periode 1945-1950
Pada tahun 1945-1947 klinik kesehatan berfungsi sebagai pelayanan kesehatan bagi tahanan perang dan masyarakat terus berjalan, namun pada periode tersebut belum didapat informasi yang lengkap sehingga tidak banyak yang dapat diuraikan. Tahun 1947, yaitu pada masa pengungsian Prof.R.H. Moechamadsyah Sastrawinangoen, DSOG, pindah tugas menjadi Kepala Kesehatan Priangan Timur yang berlokasi di Kota Tasikmalaya. Pengelolaan Klinik Kesehatan selanjutnya digantikan oleh dr. Supardan. Pada saat itu Klinik Kesehatan dan Markas BKR ditambah fungsinya sebagai Palang Merah Indonesia (PMI). Kepemimpinan dr. Supardan dalam mengelola klinik kesehatan diperkirakan berakhir pada tahun 1949. Tahun 1949, pemerintahan yang berkuasa pada saat itu meningkatkan status klinik kesehatan menjadi Rumah Sakit Pembantu Cibabat, pengelolaannya diserahkan kepada Mayor dr. Vogelsang. Kedudukan Rumah Sakit Pembantu Cibabat berada di bawah Kantor Kesehatan Kabupaten Bandung. Mayor dr. Vogelsang diperkirakan mengelola Rumah Sakit Pembantu Cibabat sampai tahun 1950.
Periode 1950-1973
Periode 1950-1973 Rumah Sakit Pembantu Cibabat dipimpin oleh dr. Sanitioso yang merangkap sebagai staf medik kantor kesehatan Kabupaten Bandung. Status Rumah Sakit Pembantu Cibabat, berada di bawah Kantor Kesehatan Kabupaten Bandung. Ketenagaan yang dimiliki saat itu, terdiri dari 1 orang Dokter (merangkap Kepala Rumah Sakit), seorang Perawat Bidan dan Perawat kurang lebih sebanyak 10 orang. Sedangkan jenis pelayanan yang diberikan saat itu berupa perawatan wanita, perawatan laki-laki dan kebidanan. Kepemimpinan dr. Sanitioso diperkirakan berakhir pada tahun 1973.
Periode 2000-...
Pada awal tahun 2000 Jabatan Direktur RSU Cibabat dijabat oleh dr. H. Hanny Rono Sulistyo, Sp.OG(K), MM.
Periode ...-1945
Sebelum tahun 1940-an Rumah Sakit Cibabat merupakan kawasan rumah dinas tempat tinggal pejabat Belanda di Kabupaten Bandung, dihuni oleh Mr. Rydee yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala GBO. Sarana dan prasarana yang ada pada saat itu terdiri dari: bangunan seluas ±300m2 dan lahan seluas ±912m2.Pada tahun 1943 pada masa pendudukan tentara Jepang di Indonesia atas instruksi komandan tentara Jepang di Cimahi, rumah kediaman Mr. Rydee dialihfungsikan menjadi klinik kesehatan bagi masyarakat dan tentara tahanan perang Belanda, di mana pengelolaan klinik tersebut diserahkan kepada Profesor R.H. Moechamadsyah Sastrawinangoen, DSOG, yang sebelumnya membuka klinik di Jl. Kaum Kaler No. 651 Cimahi dari tahun 1940. Pada tahun 1945, bersamaan dengan masa revolusi, klinik kesehatan yang dikelola oleh Prof.R.H. Moechamadsyah Sastrawinangoen, DSOG, berfungsi pula sebagai Markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Balai Pengobatan bagi tahanan perang Belanda dan masyarakat sekitarnya.
Periode 1945-1950
Pada tahun 1945-1947 klinik kesehatan berfungsi sebagai pelayanan kesehatan bagi tahanan perang dan masyarakat terus berjalan, namun pada periode tersebut belum didapat informasi yang lengkap sehingga tidak banyak yang dapat diuraikan. Tahun 1947, yaitu pada masa pengungsian Prof.R.H. Moechamadsyah Sastrawinangoen, DSOG, pindah tugas menjadi Kepala Kesehatan Priangan Timur yang berlokasi di Kota Tasikmalaya. Pengelolaan Klinik Kesehatan selanjutnya digantikan oleh dr. Supardan. Pada saat itu Klinik Kesehatan dan Markas BKR ditambah fungsinya sebagai Palang Merah Indonesia (PMI). Kepemimpinan dr. Supardan dalam mengelola klinik kesehatan diperkirakan berakhir pada tahun 1949. Tahun 1949, pemerintahan yang berkuasa pada saat itu meningkatkan status klinik kesehatan menjadi Rumah Sakit Pembantu Cibabat, pengelolaannya diserahkan kepada Mayor dr. Vogelsang. Kedudukan Rumah Sakit Pembantu Cibabat berada di bawah Kantor Kesehatan Kabupaten Bandung. Mayor dr. Vogelsang diperkirakan mengelola Rumah Sakit Pembantu Cibabat sampai tahun 1950.
Periode 1950-1973
Periode 1950-1973 Rumah Sakit Pembantu Cibabat dipimpin oleh dr. Sanitioso yang merangkap sebagai staf medik kantor kesehatan Kabupaten Bandung. Status Rumah Sakit Pembantu Cibabat, berada di bawah Kantor Kesehatan Kabupaten Bandung. Ketenagaan yang dimiliki saat itu, terdiri dari 1 orang Dokter (merangkap Kepala Rumah Sakit), seorang Perawat Bidan dan Perawat kurang lebih sebanyak 10 orang. Sedangkan jenis pelayanan yang diberikan saat itu berupa perawatan wanita, perawatan laki-laki dan kebidanan. Kepemimpinan dr. Sanitioso diperkirakan berakhir pada tahun 1973.
Periode 1973-1978
Pada tahun 1973, Kepala Rumah Sakit Cibabat dijabat oleh dr. Abikusna, yang juga merangkap sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Saat itu status Rumah Sakit Pembantu Cibabat ditingkatkan menjadi Rumah Sakit Umum Kelas D. Pada masa ini tidak banyak informasi ketenagaan dan pelayanan yang didapat. Kepemimpinan dr. Abikusna diperkirakan berakhir pada tahun 1978.Periode 1978-1984
Pada tahun 1978 Direktur RSU Cibabat dijabat oleh dr. Nina Sekartina dan status RSU Cibabat pada saat tersebut adalah RSU Kelas D yang keberadaannya di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Jabatan Direktur oleh dr. Nina Sekartina, di RSU Cibabat berakhir pada tahun 1984.Periode 1985-1995
Mulai tahun 1985 jabatan Direktur RSU Cibabat diganti oleh dr. H. Umbaran Tisnamihardja. Pada periode ini sudah mulai banyak data sarana dan kegiatan yang dapat dijadikan sebagai referensi, sehingga kami dapat lebih lengkap menyajikan gambaran RSU Cibabat. Status RSU Cibabat saat itu adalah RSU Kelas D sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Pada tahun 1987 status RSU Cibabat meningkat dari RSU Kelas D menjadi RSU Pemerintah Daerah Kelas C melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 303/Menkes/SK/IV/1987.
Periode 1995-2000
Pada tahun 1995 jabatan Direktur RSU Cibabat dijabat oleh dr. H. Idik Djumhali, MARS. Pada tahun 1996 status RSU Cibabat ditingkatkan menjadi Unit Swadana Daerah RSU Cibabat Kota Cimahi berdasarkan Perda No. 6 tahun 1996. Bulan Mei 1998 RSU Cibabat terakreditasi penuh 5 (lima) kegiatan pelayanan yang terdiri dari pelayanan Administrasi Manajemen, Pelayanan Medik, IGD, Keperawatan, dan Rekam Medik, berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No. Y.M.00.03.3.5.2495.Periode 2000-...
Pada awal tahun 2000 Jabatan Direktur RSU Cibabat dijabat oleh dr. H. Hanny Rono Sulistyo, Sp.OG(K), MM.
Kamis, 16 Juni 2011
Majalengka 2
Kabupaten Majalengka terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan.12 kelurahan tersebut yaitu Babakanjawa, Cicenang, Ci Curug, Cikasarung, Cijati, Majalengka Wetan, Majalengka Kulon, Munjul, Simpeureum, Sindangkasih, Tarikolot dan Tonjong. Pusat pemerintahan di Kecamatan Majalengka. Kantor Bupati terletak di Pendopo(selatan dariAlun-alun Majalengka) berdekatan dengan Masjid Agung Al Imam.
di lihat dari Sejarah Majalengka masih kontrofersi
inilah yang bisa di dapat dari sumber para Bupati yang sudah memimpin Kabupaten Majalengka adalah
1. RT. Dendranegara 1819 - 1848
2. RAA. Kartadiningrat 1848 - 1857
3. RAA. Bahudenda 1857 - 1863
4. RAA. Supradningrat 1863 - 1883
5. RAA. Supriadipraja 1883 - 1885
6. RMA. Supraadiningrat 1885 - 1902
7. RA. Sastrabahu 1902 - 1922
8. RMA. Suriatanudibrata 1922 - 1944
9. RA. Umar Said 1944 - 1945
10. R. Enoch 1945 - 1947
11. R.H. Hamid 1947 - 1948
12. R. Sulaeman Nata Amijaya 1948 - 1949
13. M. Chavil 1949
14. RM. Nuratmadibrata 1949 - 1957
15. H. Aziz Halim 1957 - 1960
16. H. RA. Sutisna 1960 - 1966
17. R. Saleh Sediana 1966 - 1978
18. H. Moch. S. Paindra 1978 - 1983
19. H. RE. Djaelani, SH. 1983 - 1988
20. Drs. H. Moch. Djufri Pringadi 1988 - 1993
21. Drs. H. Adam Hidayat, SH., M.Si 1993 - 1998
22. Hj. Tutty Hayati Anwar, SH., M.Si 1998 - 2008
23. H. Sutrisno, SE., M.Si 2008 - 2013
Majalengka terletak
Bagian utara wilayah kabupaten Majalengka adalah dataran rendah, sedang di bagian selatan berupa pegunungan. Gunung Ciremai (3.076 m) berada di bagian timur, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Kuningan. Gunung ini adalah gunung tertinggi di Provisi Jawa Barat, dan merupakan taman nasinoal, dengan nama Taman Nasional Gunung Ciremai seperti tampak pada peta berikut
pada jalur transportasi Pada tahun 2010 direncanakan Bandara Internasional Majalengka akan mulai dibangun. Majalengka dilintasi jalan provinsi (jalur Cirebon-Sumedang-Bandung). Dahulu kabupaten ini dilintasi jalur kereta api Cirebon-Palimanan-Kadipaten, namun saat ini tidak difungsikan lagi.
Jalur utama di Ibukota kabupaten Majalengka adalah Jalan Kyai Haji Abdul Halim, yang membelah kota Majalengka dan berujung di Perempatan Cigasong, sebagai jalan yang paling di perhatikan oleh pemerintah Kabupaten Majalengka Jalan ini selalu di Perluas setiap akan memasuki Hari Raya Idul Fitri atau hari besar lain nya. oleh karena itu, banyak cabang perusahaan yang menetap di pinggiran jalan ini.
Telaga Remis
Legenda Air Mata Sang Pangeran
Keindahan Situ Ayu Salintang tidak terlepas dari legenda air mata Pangeran Sa-lingsingan yang menangis tak henti-hentinya saat diberi nasihat Pangeran Suta-jaya, kepercayaan Sultan Cirebon. MESKI hari masih pagi dan pandangan masih terhalang kabut, keramaian di persimpangan ruas Jalan Cikahalang sudah mulai ramai. Angkutan perdesaan maupun ojek sudah sibuk melayani masyarakat yang baru pulang dari pasar.Menyusun ruas Jalan Cikahalang yang merupakan jalan utama menuju objek wisata Talaga Remis, suasana alam perdesaan sudah sangat terasa. Aroma khas kayu terbakar tercium dari asap yang mengepul dari rumah-rumah warga. Selain bentuk arsitektur rumah yang sederhana, keberadaan kolam ikan di depan rumah, menjadi ciri khas rumah warga Desa Kaduela, Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Selain pohon jeruk dan kelapa, beberapa rumah menjadikan pohon manggis mengisi halaman rumah.
Dari persimpangan Jalan Cikahalang dan Jalan Raya Dawuan-Cirebon hingga pintu gerbang Wana Wisata Alam Talaga Remis hanya sekitar tiga kilometer. Jalanan dengan kondisi be-raspal hotmix, hanya di dae-rah kelokan yang berlubang akibat terendam air yang meluap dari parit. Lepas dari gerbang masuk, diketeduhan pohon-pohon sonokeling berusia puluhan tahun meneduhi arena parkir. Dari tempat parkir inilah Talaga Remis dengan airnya yang kebiru-biruan sangat jelas terlihat.
Namun pada musim hujan seperti sekarang ini, pencinta wisata alam lebih banyak mengunjungi talaga lain, yang ada di Wana Wisata Talaga Remis. Karena, ada delapan talaga (telaga atau danau alam) yang terdapat di wana wisata alam ini, yaitu Talaga Leat, Talaga Nilem, Talaga Deleg, Situ Ayu Salintang, Talaga Leutik, Talaga Buruy, Telaga Tespong, dan Sumur Jalatunda.
Di antara delapan telaga tersebut, Situ Ayu Salintang yang paling banyak dikunjungi. Selain tempatnya yang asri serta masih alami, juga lokasinya yang tidak terlalu ramai. Keistimewaan lain dari Situ Ayu Salintang dibandingkan dengan tujuh telaga lainnya adalah berupa ikan yang selalu tidak pernah habis-habisnya meski tidak kenal waktu dipancingmasyarakat sekitar dan wisatawan yang sengaja datang untuk memancing.
Setiap musim hujan, seperti kali ini, Situ Ayu Salintang banyak mendatangkan berkah bagi siapa pun yang mengunjunginya. Bukan hanya berlimpahnya kesegaran udara di kaki Gunung Ciremai dimana Situ Ayu Salintang berlokasi, melainkan ikan nila dengan mudahnya dipancing. "Bila mampu bertahan di udara dingin, bisa membawa pulang tidak kurang dari sepuluh kilo gram ikan nila, tetapi umumnya pe-mancing hanya mampu bertahan tidak sampai lima jam," ujar Umar, salah seorang petugas Wana Wisata Talaga Remis.
Dikatakan Umar, dari delapan telaga yang terdapat di Wana Wisata Talaga Remis, masing-masing memiliki keistimewaan. Semisal Talaga Remis, dinamai demikian karena banyak didapat remis (kerang air tawar), Talaga Nilem dengan ikan nilemnya, Talaga Buruy menjadi tempat bertelurnya katak {buruy), Talaga Deleg berupa telaga kecil penuh bebatuan tempat hidup ikan deleg (gabus).
Keistimewaan lain dari Situ Ayu Salintang selain ikan nila yang hidup di telaga, juga warna airnya yang hitam mengilap karena bebatuan di dasar telaga. Sementara itu, bila musim kemarau, warna air akan sangat bening karena terkena sinar matahari.
Karena kebeningan airnya, di antara delapan telaga yang ada di Wana Wisata Talaga Remis, Situ Ayu Salintang menjadi sumber utama air masyarakat sekitar maupun suplai air PDAM Kota dan Kabupaten Cirebon serta Ma-jalengka.
Dibandingkan dengan telaga lainnya, Situ Ayu Salintang rapat dipagari tanaman hutan. Lokasi telaga yang berada di ketinggian 220 meter di permukaan laut, sedikitnya ada 160 jenis pepohonan, terutama pohon besar dan tinggi. Semisal pohon pinus, sonokeling, malaka, kosambi, pisang hyang, dan lain sebagainya.
Objek wisata Situ Ayu Salintang, bagi wisatawan yang menikmati keindahan alam, menjadi tujuan wajib setiap memasuki musim kemarau. Sementara itu, pada musim hujan seperti sekarang ini, Situ Ayu Salintang banyak dikunjungi wisatawan khusus yang memiliki hobi memancing. "Ya, karena pada musim hujan seperti sekarang ini banyak berlimpah ikan," ujar Umar.
Situ Ayu Salintang merupakan objek wisata perpaduan antara pesona alam pergu-nungan hutan, air telaga yang jernih, bening laksana kaca. Belum lagi dengan udara pergunungan Ciremai yang sejuk menantang untuk berwana wisata menguak misteri hutan dan tempat rekreasi favorit untuk dikunjungi.
Keindahan Situ Ayu Salintang tidak terlepas dari legenda air mata Pangeran Sa-lingsingan yang menangis tak henti-hentinya saat diberi nasehat Pangeran Sutajaya, kepercayaan Sultan Cirebon. Pangeran Salingsingan menangis, karena merasa berdosa telah mengkhianati negerinya dengan melakukan peperangan dengan saudaranya. "Karena diyakini berasal dari air mata pangeran (Salingsingan), air telaga sangat bening sekali, hingga ikan yang berenang pun dengan mudah terlihat," ujar Umar.
Meskipun masuk wilayah Kabupaten Kuningan, Situ Ayu Salintang berjarak sekitar 36 kilometer arah utara dari Kota Kabupaten Kuningan. Sementara itu, dari Kota Cirebon sekitar dua puluh kilometer ke arah selatan dan dari Majalengka hanya sekitar delapan belas kilometer.
Selain lokasinya yang sangat mudah untuk dikunjungi karena ditunjang infrastruktur sangat memadai, juga lokasinya di kawasan perbukitan jauh dari jalan utama Majalengka (via Dawuan)-Cirebon. Sebelum memasuki objek wisata banyak ditemui tempat menginap maupun rumah makan yang menawarkan berbagai makanan khas Kuningan dan Majalengka yang terkenal dengan ikan gurame bakar maupun goreng.
Belakangan ini rumah-rumah makan banyak yang menawarkan ikan gurame dengan bumbu cobek ataupun tabur sambal tomat hijau dengan harga sangat terjangkau. Jadi, selain mengungkap keindahan alam, juga menikmati makanan khas perdesaan di kaki Gunung Ciremai. ((Didin Nuzuludin prikitiw))*
Rajagaluh
Babad Rajagaluh
Konon dahulunya Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.
Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ( Sunan Gunung Jati ) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.
Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh.
Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.
Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitupun sebaliknya.
Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Serta merta air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.
Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.
Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas ( Kandaga Mas ) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.
Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.
Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.
Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng mempertunjukan kebolehannya. Tanpa diduga sebbelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng.Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajaknya Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau sampai mengajak tidur bersama.
Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil.
Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.
Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.
Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.
Konon dahulunya Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.
Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ( Sunan Gunung Jati ) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.
Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh.
Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.
Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitupun sebaliknya.
Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Serta merta air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.
Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.
Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas ( Kandaga Mas ) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.
Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.
Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.
Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng mempertunjukan kebolehannya. Tanpa diduga sebbelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng.Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajaknya Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau sampai mengajak tidur bersama.
Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil.
Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.
Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.
Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.
majalengka
Jejak Nyai Rambut Kasih Majalengka
Nama Nyai Rambut Kasih cukup dikenal masyarakat Tatar Sunda. Bahkan keberadaannya kerap dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Majalengka. Soal ini memang masih ada silang pendapat. Namun, beberapa petilasannya meyakinkan akan eksistensinya. Di tempat-tempat persinggahannya itu, Nyai Rambut Kasih kerap menampakkan diri sebagai sosok yang cantik rupawan. Siapa sebenarnya tokoh yang melegenda ini?
Sudah menjadi perbincangan umum bila sosok Nyai Rambut Kasih berkait erat dengan berdirinya Kabupaten Majalengka. Di kabupaten yang berbatasan dengan Indramayu, Ciamis, Sumedang dan Cirebon ini, beberapa petilasan Nyai Rambut Kasih masih ada dan terawat dengan baik. Yang paling apik dan terus menerus terjaga kondisinya adalah gedung pendopo Kabupaten Majalengka.
Gedung pendopo adalah kantor Bupati Majalengka saat ini. Dulu, gedung ini merupakan rumah kediaman Nyai Rambut Kasih. Di belakang gedung ini terdapat kamar Nyai Rambut Kasih dan seperangkat gamelan yang diperuntukkan khusus untuk menghibur sang Nyai. Kerap kali pegawai Pemkab Majalengka menyaksikan penampakkan seorang wanita berambut panjang terurai mengenakan gaun ala wanita bangsawan jaman dulu. Diyakini betul bila itulah sosok Nyai Rambut Kasih. Selain gedung pendopo, patilasan Nyai Rambut Kasih yang kerap dikunjungi masyarakat, terletak di Kampung Parakan, Kelurahan Sindang Kasih, Majalengka. Di sini terdapat bangunan bercungkup, batu-batu tempat semadi dan sumur Cikahuripan yang airnya dipercaya bisa membawa keberkahan dalam hidup. Bahkan pada tanggal 7 Juni 1994, Bupati Majalengka H Adam Hidayat ketika itu, berkenan meresmikannya sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.
Selain Sindang Kasih, tempat persinggahan Nyai Rambut Kasih lainnya terdapat di Dusun Banjaran Hilir, Kecamatan Banjaran, Majalengka. Lokasinya berada di tanah milik seorang juru kunci yang diamanahi secara turun-temurun. Masyarakat Dusun Banjaran Hilir dan sekitarnya, sampai sekarang masih mempercayai akan kehadiran sosok Nyai Rambut Kasih di temBila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan, sudah menjadi keharusan untuk terlebih dahulu melakukan ziarah dan berkirim doa kepada Nyai Rambut Kasih. Dan apabila di dalam pesta digelar pula hiburan Jaipongan, maka sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai RAmbut Kasih seperti Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Konon, bila sinden tidak menembangkan lagu itu, maka akan ada keluarga empunya hajat yang kesurupan.
Putri Bangsawan
Siapa sesungguhnya Nyai Rambut Kasih ini ? Riwayat Nyai Rambut Kasih berkaitan dengan keberadaan Raja Pajajaran yang tersohor, yakni Prabu Siliwangi. Bila ditelusuri, Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, yang bernama Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan dengan isteri ketiga ini, Prabu Siliwangi dianugerahi tiga orang putra dan seorang putrid. Mereka adalah Walangsungsang, Rarasantang, Kiansantang dan Syeh Nurjati.
Putra keempat, yakni Syeh Nurjati, memperisteri ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil perkawinan ini mereka dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, yakni Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah, Permana Sakti Jaya Hadikusumah, dan Sri Ratu Purbaningsih. Pada tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk menyampaikan tugas.
Tugas itu antara lain mereka harus menjadi orang yang berguna dan dikenang generasi mendatang karena kebaikannya. Karena itulah Syeh Nurjati segera memerintahkan ketiganya berangkat ke arah Barat sebelah Utara Gunung Ciremai. “Carilah oleh kalian pohon Maja. Kalau sudah ditemukan, kalian bertiga harus membuka daerah kekuasaan di sana,” titah Syeh Nurjati.
Usai menerima tugas itu, ketiganya langsung berangkat dengan membawa dua orang pengawal, yakni Pinangeran Putih dan Parung Jaya. Pada hari Senin, Jumadil Awal tahun 1405 M, mereka tiba di bagian Barat Gunung Ciremai. Dan tepat hari Jumat tanggal 1 bulan Rajab tahun 1405 M, sekitar jam 12 siang, pohon Maja sesuai yang sabda sang ayah, berhasil ditemukan oleh Dalem Rangga Wulan Jaya Kusumah. Namun yang ditemukan hanya dua pohon saja. Daerah tempat ditemukannya pohon maja itu saat ini adalah terminal Maja di Kecamatan Maja.
Di tempat ini, Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah menganjurkan kepada dua adiknya dan dua pengawalnya agar membangun dua padepokan. Usai membangun dua padepokan, Sri Ratu Purbaningsih minta ijin kepada kakaknya untuk pulang ke Cirebon. Akan tetapi Dalem Rangga tidak mengijinkan dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya.
Karena tak mendapat ijin dari kakaknya, Sri Ratu jatuh di curugan (sekarang Cicurug). Merasa kehilangan sang adik, dua kakak beradik berusaha mencari. Sampai di Cicurug, sang adik tidak ada (langka). Berdasarkan fakta-fakta ini, diambilah kesimpulan bila kata Majalengka berasal dari pohon Maja yang ditemukan di daerah Maja, dan kata langka yang diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih.
Setelah sekian waktu pencarian, akhirnya Ratu Purbaningsih ditemukan. Mereka bertiga lantas membangun kawasan itu menjadi daerah pemukiman, sekaligus pemerintahan. Sampai beberapa waktu kemudian daerah itu berkembang pesat. Sang ayah, Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nya Ratu Rambut Kasih oleh ayahandanya. (bersambung)
Nama Nyai Rambut Kasih cukup dikenal masyarakat Tatar Sunda. Bahkan keberadaannya kerap dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Majalengka. Soal ini memang masih ada silang pendapat. Namun, beberapa petilasannya meyakinkan akan eksistensinya. Di tempat-tempat persinggahannya itu, Nyai Rambut Kasih kerap menampakkan diri sebagai sosok yang cantik rupawan. Siapa sebenarnya tokoh yang melegenda ini? Sudah menjadi perbincangan umum bila sosok Nyai Rambut Kasih berkait erat dengan berdirinya Kabupaten Majalengka. Di kabupaten yang berbatasan dengan Indramayu, Ciamis, Sumedang dan Cirebon ini, beberapa petilasan Nyai Rambut Kasih masih ada dan terawat dengan baik. Yang paling apik dan terus menerus terjaga kondisinya adalah gedung pendopo Kabupaten Majalengka.
Gedung pendopo adalah kantor Bupati Majalengka saat ini. Dulu, gedung ini merupakan rumah kediaman Nyai Rambut Kasih. Di belakang gedung ini terdapat kamar Nyai Rambut Kasih dan seperangkat gamelan yang diperuntukkan khusus untuk menghibur sang Nyai. Kerap kali pegawai Pemkab Majalengka menyaksikan penampakkan seorang wanita berambut panjang terurai mengenakan gaun ala wanita bangsawan jaman dulu. Diyakini betul bila itulah sosok Nyai Rambut Kasih.
Selain Sindang Kasih, tempat persinggahan Nyai Rambut Kasih lainnya terdapat di Dusun Banjaran Hilir, Kecamatan Banjaran, Majalengka. Lokasinya berada di tanah milik seorang juru kunci yang diamanahi secara turun-temurun. Masyarakat Dusun Banjaran Hilir dan sekitarnya, sampai sekarang masih mempercayai akan kehadiran sosok Nyai Rambut Kasih di temBila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan, sudah menjadi keharusan untuk terlebih dahulu melakukan ziarah dan berkirim doa kepada Nyai Rambut Kasih. Dan apabila di dalam pesta digelar pula hiburan Jaipongan, maka sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai RAmbut Kasih seperti Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Konon, bila sinden tidak menembangkan lagu itu, maka akan ada keluarga empunya hajat yang kesurupan.
Putri Bangsawan
Siapa sesungguhnya Nyai Rambut Kasih ini ? Riwayat Nyai Rambut Kasih berkaitan dengan keberadaan Raja Pajajaran yang tersohor, yakni Prabu Siliwangi. Bila ditelusuri, Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, yang bernama Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan dengan isteri ketiga ini, Prabu Siliwangi dianugerahi tiga orang putra dan seorang putrid. Mereka adalah Walangsungsang, Rarasantang, Kiansantang dan Syeh Nurjati.
Putra keempat, yakni Syeh Nurjati, memperisteri ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil perkawinan ini mereka dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, yakni Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah, Permana Sakti Jaya Hadikusumah, dan Sri Ratu Purbaningsih. Pada tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk menyampaikan tugas.
Tugas itu antara lain mereka harus menjadi orang yang berguna dan dikenang generasi mendatang karena kebaikannya. Karena itulah Syeh Nurjati segera memerintahkan ketiganya berangkat ke arah Barat sebelah Utara Gunung Ciremai. “Carilah oleh kalian pohon Maja. Kalau sudah ditemukan, kalian bertiga harus membuka daerah kekuasaan di sana,” titah Syeh Nurjati.Usai menerima tugas itu, ketiganya langsung berangkat dengan membawa dua orang pengawal, yakni Pinangeran Putih dan Parung Jaya. Pada hari Senin, Jumadil Awal tahun 1405 M, mereka tiba di bagian Barat Gunung Ciremai. Dan tepat hari Jumat tanggal 1 bulan Rajab tahun 1405 M, sekitar jam 12 siang, pohon Maja sesuai yang sabda sang ayah, berhasil ditemukan oleh Dalem Rangga Wulan Jaya Kusumah. Namun yang ditemukan hanya dua pohon saja. Daerah tempat ditemukannya pohon maja itu saat ini adalah terminal Maja di Kecamatan Maja.
Di tempat ini, Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah menganjurkan kepada dua adiknya dan dua pengawalnya agar membangun dua padepokan. Usai membangun dua padepokan, Sri Ratu Purbaningsih minta ijin kepada kakaknya untuk pulang ke Cirebon. Akan tetapi Dalem Rangga tidak mengijinkan dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya.
Karena tak mendapat ijin dari kakaknya, Sri Ratu jatuh di curugan (sekarang Cicurug). Merasa kehilangan sang adik, dua kakak beradik berusaha mencari. Sampai di Cicurug, sang adik tidak ada (langka). Berdasarkan fakta-fakta ini, diambilah kesimpulan bila kata Majalengka berasal dari pohon Maja yang ditemukan di daerah Maja, dan kata langka yang diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih.
Setelah sekian waktu pencarian, akhirnya Ratu Purbaningsih ditemukan. Mereka bertiga lantas membangun kawasan itu menjadi daerah pemukiman, sekaligus pemerintahan. Sampai beberapa waktu kemudian daerah itu berkembang pesat. Sang ayah, Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nya Ratu Rambut Kasih oleh ayahandanya. (bersambung)
Telaga Herang
Nyi Ratna Herang adalah ronggeng termasyhur era 1920-an. Kecantikannya tiada dua. Sayang, sebuah tragedi memilukan membuat sang ronggeng terbunuh. Mayatnya dihanyutkan di sungai. Saat ditemukan, jasadnya lalu dikubur disisi sungai Cigede. Kini makamnya sering jadi obyek ngalap berkah. Padahal, tetua kampung di sana melarang keras siapa pun menziarahinya. Mengapa ?Kisah sukses ronggeng termasyhur di era 1920-an ini masih terngiang hingga kini. Masyarakat Kuningan, terutama kalangan pekerja seni, tak mudah melupakan namanya. Betapa tidak. Di masa jayanya, Ratna adalah perempuan cantik. Sebelum tragedi pilu itu berlaku, usianya baru 19 tahun. Rambutnya panjang tergerai. Tubuhnya sungguh aduhai.
Nyi Ratna Herang memang ronggeng berbakat. Ia tenar karena kemampuan, bukan sekadar cantik semata. Hampir tiap ada hajatan, perayaan, atau pesta-pesta, orang selalu menggelar panggung dengan ronggeng Nyi Ratna Herang. Dan setiap Nyi Ratna Herang manggung, berbondong-bondong orang menjadi saksi. Jangankan kaum pria, para wanita pun banyak yang menyukai. Kaum hawa selalu bermimpi parasnya bisa secantik Nyi Ratna.
Pada suatu perayaan, Nyi Ratna Herang diundang jadi bintang. Ketika itu hadir para jawara, kaum menak dan orang-orang kaya. Mereka berlomba ingin menari bersamanya. Tak hanya itu. Tidak sedikit pula yang ingin mempersuntingnya menjadi istri. Namun, ada pantangan dari mucikari yang membesarkannya. Bahwa Nyi Ratna terikat perjanjian untuk tidak menjadi seorang istri sebelum satu hajatnya dicapai.
Otomatis, keinginan mempersunting Nyi Ratna Herang tinggal impian. Sayangnya, sisi lain predikat kaum ronggeng yang negatif ketika itu sudah telanjur bersemi. Sebab selain memiliki suara yang indah, tarian bagus dan tubuh yang sempurna, para ronggeng ketika itu bisa diajak kencan. Bahkan siap bermain ranjang dengan siapa saja yang bersedia membayarnya.
Begitulah image negatif itu juga menimpa Nyi Ratna Herang. Tak heran, setiap ada pesta yang menghadirkan Nyi Ratna Herang sebagai ronggeng, selalu saja terjadi keributan. Penyebabnya tiada lain, penonton berlomba-lomba untuk bisa menari atau mem-bookingnya.
Suatu ketika, terjadi keributan antara dua orang jawara yang gandrung kepada Nyi Ratna. Mereka berebut ingin bercinta dengannya. Sebagai ksatria, mereka bersumpah siapa yang menang dalam pertarungan, maka dia yang berhak atas Nyi Ratna Herang. Akhirnya terjadilah pertarungan seru. Namun tidak ada seorang pun dari mereka keluar sebagai pemenang, karena keduanya sama kuat.
Terbunuh
Pertarungan memperebutkan Nyi Ratna Herang kali ini berbuah petaka. Nyi Ratna terluka parah. Luka itu membuatnya meninggal tewas di tempat kejadian.
Namun, sesaat sebelum Nyi Ratna Herang menghembuskan nafas terakhir, dari bibirnya yang mungil meluncur kata-kata kutukan. “Di daerah ini, tidak akan ada perempuan yang secantik dirinya sampai umur 19 tahun,” begitu bunyi kutukannya.
Menurut orang-orang tua di sana, supata atau kata-kata bertuah itu mengandung arti tidak akan ada perempuan yang cantik dengan rambut panjang tergerai sampai usia 19 tahun di daerah itu. Makanya, jangan heran bila di Ciherang, Kuningan, sulit menemukan gadis cantik yang berusia 19 tahun ke bawah. Rata-rata mereka diungsikan oleh orang tuanya ke rumah saudaranya di luar Ciherang. Baru setelah usia mereka lewat 19 tahun, mereka kembali ke Ciherang. Kabarnya, hingga saat ini sudah 9 orang gadis cantik menjelang usia 19 tahun yang meninggal dunia. Mereka meninggal dengan berbagai cara, seperti menderita sakit baru kemudian meninggal.
Kembali kecerita semula. Setelah Nyi Ratna Herang meninggal, mayatnya dihanyutkan di sungai Cigede. Sampai akhirnya jasad Nyi Ratna Herang ditemukan warga di Blok Pamujaan, Desa Ciherang. Mayat yang sudah rusak dan mengeluarkan bau itu dimakamkan di pinggir sungai, tak jauh dari tempat ditemukan. Penemuan mayat Nyi Ratna Herang cukup menggemparkan masyarakat. Maklum, dia ronggeng tersohor.
Ngalap Berkah
Entah siapa yang memulai, sejak saat itu makamnya sering diziarahi orang yang simpati kepadanya. Terutama dari kalangan seniman. Bahkan lambat laun tidak sedikit peziarah yang meminta sesuatu dari makamnya. Para seniman, pemilik grup kesenian ataupun ronggeng, antri menziarahi makamnya dan memohon agar dirinya bisa sukses.
Para ronggeng yang berziarah, memohon agar dirinya bisa tenar dan cantik seperti Nyi Ratna Herang. Bagi orang tua, memohon agar keturunannya bila wanita, diberi kecantikan seperti Nyi Ratna Herang.
Karena makamnya dijadikan tempat meminta, lokasi di sekitar kuburan Nyi Ratna Herang menjadi tempat angker dan wingit. Tidak ada yang berani mendekati makamnya. Menurut beberapa pengakuan, dari sekitar makam Nyi Ratna Herang sering muncul Kembang Karang. Yakni anak kecil yang berkelebat bolak balik di sekitar makam. Tapi bila orang melihat dan mengejarnya, bocah kecil ini menghilang begitu saja.
Menurut Aom Oking, tetua Desa Ciherang dan pemilik tanah tempat Nyi Ratna Herang dimakamkan, keberadaan Kembang Karang itu menunjukkan lokasi tersebut angker dan sakral. Dan benar saja, lambat laun, lokasi kuburan Nyi Ratna Heran menjadi incaran para peziarah untuk memburu berkah.
Uniknya, kebanyakan para peziarah selalu mengambili batu-batu atau kerikil yang ada di atas kuburannya. Bahkan tidak jarang pula ada yang mengambil sejumput tanah untuk di bawa pulang. Konon, batu-batu itu dijadikan jimat. Sedangkan tanah yang diambil lalu ditabur didepan rumahnya. Saking banyaknya peziarah yang berperilaku demikian, makam Nyi Ratna Herang semakin gundul, karena batu dan tanahnya selalu dipungut peziarah. ***
Asal Usul Telaga Warna
Keindahannya tak cukup diungkap kata-kata. Inilah danau yang luar biasa indah. Dikitari hutan yang rimbun dan alami. Letaknya di kompleks Gunung Megamendung, berbatasan antara Bogor dan Cianjur. Dibalik itu, ternyata Talaga Warna menyembunyikan sejarah yang nyaris luput dari perhatian.
Sejak lama Talaga Warna menjadi obyek wisata andalan kabupaten Bogor. Memang, pesona alamnya yang wah, sanggup membuat decak kagum pengunjung atau wisatawan. Tiap hari, ada saja yang mengunjungi telaga ini. Banyak daya tarik danau yang selalu menyedot wisatawan domestic dan manca ini. Salah satunya adalah fenomena alam yang jarang ditemui di tempat lain. Secara administratif, telaga ini masuk dalam wilayah konservasi Bogor, tepatnya di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, atau kawasan yang terkenal dengan sebutan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur).
Bila ditilik seksama, air yang menggenangi telaga ini kerap berubah warna. Konon, ada tujuh warna yang pada waktu-waktu tertentu tampil bergantian. Tentu saja ini bukan gejala alam biasa. Agaknya itulah sebabnya mengapa telaga ini dinamakan Talaga Warna. Selain itu, masih banyak fenomena lain yang menjadi daya tarik lain danau mungil ini. Seperti kisah tentang bekas Kerajaan Kutatanggeuhan yang pusatnya berada di dasar Talaga Warna.
Sejak lama Talaga Warna menjadi obyek wisata andalan kabupaten Bogor. Memang, pesona alamnya yang wah, sanggup membuat decak kagum pengunjung atau wisatawan. Tiap hari, ada saja yang mengunjungi telaga ini. Banyak daya tarik danau yang selalu menyedot wisatawan domestic dan manca ini. Salah satunya adalah fenomena alam yang jarang ditemui di tempat lain. Secara administratif, telaga ini masuk dalam wilayah konservasi Bogor, tepatnya di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, atau kawasan yang terkenal dengan sebutan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur).Putri Ayu
Ada sesuatu yang lain terjadi di sini. Sesuatu yang tersembunyi dibalik keindahan fisik. Sahdi, petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Bogor yang mengelola perlindungan dan pelestarian alam flora dan fauna cagar alam Telaga Warna, menuturkan hal itu. “Ada cerita menarik mengapa telaga ini disebut Telaga Warna,” ungkap Sahdi kepada penulis.
Dahulu, Sahdi mengawali ceritanya, Telaga Warna adalah patilasan atau peninggalan Kerajaan Kutatanggeuhan. Yakni sebuah kerajaan yang berpusat di lereng Gunung Lemo, Komplek Gunung Megamendung. Kerajaan Kutatanggeuhan dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Suarnalaya dengan permaisurinya bernama Purbamanah.
Setelah sekian lama membina rumah tangga, sang raja tak kunjung dikarunia seorang anakpun. Padahal, segala upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Sampai-sampai para petinggi dan penasehat kerajaan menyarankan agar Sang Prabu memungut seorang anak sebagai penerus kerajaan, lalu mengangkatnya sebagai Putera Mahkota.
Sang Prabu menolak saran itu. Ia menginginkan keturunan asli dari Sang Permaisuri.
Maka beliau memutuskan untuk bertapa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar mendapatkan keturunan dari Sang Permaisuri. Berangkatlah dia menuju Gunung Megamendung. Setelah sekian waktu bertapa, akhirnya Sang Prabu mendapat wangsit yang isinya berupa saran agar Sang Prabu memungut seorang anak angkat, sama dengan saran dari para penasehat kerajaan.
Namun lagi-lagi Sang Prabu tetap pada pendiriannya. Ia ingin mendapat anak yang keluar dari rahim permaisuri. Sebab anak angkat berbeda dengan anak sendiri. Maka dengan penuh keyakinan dan tanpa putus asa, beliau melanjutkan semadinya dengan khusuk, seraya memohon Sang Maha Kuasa memberikan anak asli dari Sang Permaisurinya.
Akhirnya suara gaib terdengar kembali, menjawab keinginan keras Sang Prabu. “Jika begitu keinginanmu, pulanglah engkau,” tutur suara gaib itu.
Mendapat wangsit demikian, Sang Prabu menuruti. Hingga beberapa bulan kemudian Sang Permaisuri positif hamil. Kenyataan itu disambut suka cita Sang Prabu, dan seterusnya tibalah saat sang bayi lahir ke dunia dengan selamat dan sehat.
Bayi mungil berkelamin perempuan itu lantas diberi nama Nyi Ajeng Gilang Rinukmi, dan nama lainnya Putri Ayu Kencana Ungu. Sebagai rasa ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, Kerajaan Kutatanggeuhan mengelar pesta tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah, bahkan super mewah.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu terus berputar. Sang Putri tumbuh menjadi remaja yang cantik rupawan. Kecantikannya tiada tara. Banyak pemuda berdecak mengagumi kemolekan sang putri. Raja dan kerabat istana amat menyayangi putrid semata wayang itu.
Hingga tiba usia tujuh belas, Sang Prabu merencanakan pesta ulang tahun yang meriah. Undangan dikirim ke seluruh pelosok negeri, termasuk sahabat dari kerajaan lain. Diundanglah seorang empu yang ahli membuat kalung. Kalung yang terbuat dari emas, perak dan intan berlian itu dipersembahkan buat Sang Putri sebagai kado ulang tahun. Kalung itu melambangkan tanaman, emas perak melambangkan daun-daunan, intan permata melambangkan buah dan bunga-bungaan.
Saking meriahnya pesta ulang tahun Nyi Putri Ayu, warga kerajaan Kutatanggeuhan khususnya, dan sahabat-sahabat sang Prabu, berbondong-bondong memberikan cindera mata sebagai tanda kasih sayang kepada Sang Putri. Cindera mata berupa emas, perak, serta intan berlian. Harta pemberian itu terkumpul demikian banyak. Lalu Sang Prabu memerintah penasehatnya untuk menyimpannya buat kepentingan rakyat.
Talaga Warna
Saat itu Sang Prabu berpidato mengungkapkan rasa gembira dan syukur. Usai pidato, Sang Prabu mengambil kalung tadi untuk diserahkan kepada sang Putri. Namun apa yang terjadi ? Ketika kalung itu diserahkan, ternyata Sang Putri berkehendak lain. Entah mengapa kalung itu bukannya diterima dengan senang hati, malah dilemparkan ke wajah ibunya, sehingga bercerai berai.
Suasana pesta berganti keheningan. Yang terdengar hanya suara isak tangis yang diawali tangisan Sang Permaisuri. Dan seolah menggambarkan rasa duka mendalam, tiba-tiba bagian pendopo kerajaan mengeluarkan air. Air yang keluar itu memancar dengan derasnya. Makin lama kian membesar, hingga akhirnya keraton Kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam oleh air mata kerajaan berikut segala isinya. Yang tampak kemudian hanyalah sebuah telaga yang indah dikelilingi pepohonan yang rindang.
Nah, rupanya, dibalik keindahan panorama alam tersebut, terdapat nuansa mistik yang begitu kental. Sewaktu-waktu, kejadian langka kerap berlaku di danau ini. Misalnya air telaga yang tenang dan jernih itu, sering berubah-ubah warna tanpa sebab yang jelas. Fenomena seperti itu terus terjadi sampai sekarang, sehingga orang-orang menyebutnya Talaga Warna. Karena keanehan itulah banyak orang yang kebetulan melihat air telaga berubah warna, sering mengambil airnya untuk obat.
Belakangan, ada beberapa pengunjung yang punya misi khusus. Mereka menjadikan areal Telaga Warna sebagai ajang ngalap berkah. Tidak sedikit yang datang ke sana untuk berziarah serya memohon hajatnya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Akhirnya orang-orang menganggap Talaga Warna sebagai tempat yang dikeramatkan.
Bahkan muncul keyakinan air Talaga Warna manjur untuk pengobatan atas penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Selain itu, banyak pengunjung yang sengaja datang untuk mandi di Telaga Warna, baik siang maupun malam hari. Inilah tradisi unik yang kemudian berkembang. Biasanya, usai mandi, pakaian dalam para peziarah itu ditinggalkan di Talaga Warna. Konon, hal itu untuk menjauhkan diri dari kesialan dan berharap cita-citanya terkabul.
Selain itu, di dalam Talaga Warna, terdapat dua jenis ikan yang hingga kini menjadi misteri. Ikan itu ukurannya besar. Yang berwarna hitam diberi nama si Tihul dan yang kuning dinamakan si Layung. Namun kedua ikan ini tidak ada yang mengetahui mana yang betina dan mana yang jantannya. Kabarnya, dua ikan ini sering berpindah-pindah. Sesekali sering terlihat di sumber mata air Sarongge Cianjur, dan kali lain ada di sumber air Ciburial Bogor.
Ada keyakinan bila seseorang berhasil melihat ikan tersebut, maka segala apa yang menjadi cita-citanya akan terkabul. Malah bagi siapa yang dikehendaki, ikan itu pun sewaktu-waktu akan menampakkan diri dan meloncat ke atas permukaan air telaga. Wallahualam bissawab. ***
Situ Bagendit
Legenda dari jawa barat
“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.
“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”
“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.
Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.
“Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”
Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.
Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.
“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.
Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.
“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.
“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut
“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek
“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi
“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.
“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih
“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”
“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”
“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.
Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.
Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.
“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.
“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.
“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.
Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.
“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”
“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.
“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.
“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”
“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.
“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”
“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.
Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”
Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
“Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.
“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”
Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.
Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.
Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.
Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.
“Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”
“Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”
Sementara iru Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.
“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”
“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.
Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.
“Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”
Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.
Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.
“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.
Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.
“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.
“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut
“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek
“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi
“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.
“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih
“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”
“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”
“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.
Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.
Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.
“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.
“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.
“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.
Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.
“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”
“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.
“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.
“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”
“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.
“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”
“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.
Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”
Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
“Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.
“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”
Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.
Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.
(SELESAI) dari berbagai sumber cerita
legenda malin kundang
Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu M
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
(SELESAI)
alin Kundang sambil berlinang air mata.
gambaran umum gunung santri sebagai wisata ziarah
gunung santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di desa bojonegoro kecamatan bojonegoro kabupaten serang.letak gunung santri berada di tengah, di kelilingi oleh gugusan gunung-gunung yang memanjang, di mulai dari pantai dan berakhir pada induk gunung yaitu gunung gede.gunung santri memiliki nilai estetika, nilai sejarah dan nilai religius.dan d puncak nya terdapat sebuah makam seorang wali yakni Syekh Muhammad Sholeh.bagi pengunjung yang ingin ziarah ke makam bsa dilakukan dengan jalan kaki,dengan jarak tempuh dari bawah sekitar + 500 M.
Peta:
sebelah barat laut daerah pantai utara yang jarak nya dari ibu kota Serang + 25 KM.terletak disebelah utara kota Cilegon + 7 KM.
Peta:
sebelah barat laut daerah pantai utara yang jarak nya dari ibu kota Serang + 25 KM.terletak disebelah utara kota Cilegon + 7 KM.
Langganan:
Komentar (Atom)
